Saya tinggal di Peabody Terrace, suatu kompleks apartemen milik Harvard dan ditangani oleh Harvard Real Estate Services. Kalau berjalan kaki dari rumah saya ke kampus, sekitar 20 menit. Karena faktor kemalasan dan dari dulu memang saya suka (bedakan suka dengan sangat mengerti) naik sepeda, maka saya memutuskan untuk beli sepeda untuk memudahkan saya ke kampus dan kalau ada keperluan lainnya.
Setelah melalui banyak perdebatan pribadi, riset sana-sini dan konsultasi ke kiri dan ke kanan, saya memutuskan untuk membeli sepeda baru yang cukup bagus dengan harapan ketika pulang nanti, bisa saya bungkus dan bawa pulang ke Jakarta. Sepeda yang saya beli pertama kali, di toko sepeda di Porter Square, berbentuk seperti ini:
Sepeda ringan dan super gagah. Setidaknya itu kesan pertama saya dan alasan saya ketika membelinya. Saya berpikir bahwa walaupun saya tidak punya mobil disini (agak absurd dan boros ketika hanya setahun disini dan kemudian membeli mobil) setidaknya alat utama transportasi saya keren dan gagah.
Saya senang sekali dengan sepeda itu, saya namakan sepeda itu Sarah, dari Sarah Palin. Kenapa Sarah Palin? Supaya saya selalu ingat untuk TIDAK menjadi Sarah Palin, sebagaimana diceritakan dalam Artikel Newsweek mengenai Sarah Palin. Soal bagaimana dia berhasil memobilisasi "perubahan" di Amerika Serikat melalu Tea Party Movement nya itu mungkin perlu diapresiasi. Cara memobilisasinya, bukan apa yang mereka tawarkan sebagai "perubahan". Tapi itu cerita untuk lain kali.
Lama kelamaan saya menjadi gerah dengan Sarah, karena kebanyakan sepeda di Cambridge dan juga Boston, yang digunakan para komuter, merupakan sepeda bekas (setidaknya menurut penglihatan saya), Sarah menjadi sesuatu yang mencolok. Ditambah lagi, semua teman-teman saya di kampus selalu berkomentar bahwa sepeda saya pasti sepeda mahal. Ada rasa tidak nyaman mulai muncul ke permukaan.
Seperti ada jawaban (jawaban yang tidak mengenakkan), Sarah dicuri minggu lalu. Hilang tiada berbekas. Terakhir saya parkir di ruang parkiran sepeda di ruang bawah tanah Peabody Terrace. Saya kesal bukan kepalang dan lapor kepada pengelola apartemen dan juga kepada Harvard University Police. Soal apakah akan ditemukan, saya pasrah, yang penting semua langkah yang perlu dilakukan saya lakukan. Teman saya memang pernah bilang bahwa tingkat pencurian sepeda di negara bagian Massachusetts termasuk yang paling tinggi di Amerika. Menurut website ini memang Boston (termasuk Cambridge) ada di nomor 6 untuk kota dengan tingkat pencurian sepeda tertinggi di Amerika.
Karena sepeda telah menjadi kebutuhan bagi saya, selain ke kampus, saya pakai untuk belanja barang-barang kebutuhan sehari-hari dan juga saya pakai untuk ke stasiun kereta terdekat untuk pergi ke Boston atau tempat lain, saya kemudian membeli sepeda baru. Berbekal pengetahuan dan pengalaman, saya memutuskan untuk beli sepeda bekas. Sepeda bekas di Cambridge/Boston ternyata mahal, dengan harga yang sama mungkin saya bisa beli sepeda Polygon yang bagus di Jakarta. Setelah perdebatan pribadi, riset sana-sini dan konsultasi ke kiri dan ke kanan, saya beli sepeda bekas saya dari suatu toko yang khusus menjual sepeda bekas yang sudah direkondisi oleh mereka, diberikan ban baru, rantai baru dan dibersihkan. Mereka juga menyediakan garansi 30 hari. Akhirnya dari Lechmere, saya pulang naik sepeda baru (tapi bekas) saya.
Sebenernya untuk harga yang sama saya bisa saja membeli sepeda baru di toko-toko seperti Target atau Wal-Mart. Namun dari pelajaran yang saya tangkap dari diskusi dengan teman sekamar saya (yang sepedanya dicuri juga), yang paling penting bukan apakah sepeda itu mahal atau tidak sehingga akan dicuri, namun juga seberapa kelihatan "baru"nya sepeda itu. Apa sepeda itu mencolok di antara sepeda lain di parkiran sepeda. Teman saya yang lain bilang bahwa, dulu ketika dia LLM di Oxford, kalau ada temannya yang beli sepeda baru dari toko, akan langsung dipasang stiker-stiker norak disana-sini dan dioleskan lumpur agar terlihat "gembel". Hal ini yang membuat saya memutuskan untuk membeli sepeda bekas dan akan membuat sepeda tersebut terlihat "gembel".
Karena saya perlu keranjang untuk membawa barang-barang (buku, belanja kebutuhan sehari-hari), saya pasang keranjang yang akan menambah "kegembelan" sepeda saya, saya pasang keranjang plastik besar yang orang-orang sini bilang sebagai milk-crate karena biasa dipakai mengangkut susu. Saya ikat dengan ikat plastik dan sepeda saya menjadi lebih fungsional dan juga terlihat "gembel". Alhasil, sekarang sepeda saya seperti ini:
Saya merasa lebih baik mengendarai sepeda ini. Merasa lebih cocok dengan lingkungan sekitar dan tidak begitu khawatir lagi apabila parkir di sembarang tempat. Tapi sepeda ini belum saya beri nama, mungkin saya akan namakan Sarah juga, biar saya ingat juga untuk berhati-hati dengan sepeda saya. Dan juga bahwa to feel that you have fit in, sometimes you need to not stand-out.

